Minggu, 08 Mei 2011

aspek keperilakuan dalam penganggaran


1. Aspek keperilakuan dalam penganggaran
Ada dua aspek penting dalam penganggaran yaitu mengenai organizational slack dan yang kedua adalah budgetary slack. Aspek keperilakuan dalam penganggaran dapat dibedakan atas unit analisis yang ada. Satu sebagai unit organisasi dan yang lainya adalah sebagai unit individual. Menurut Belkaoui (1989) , slack atau “ senjangan “ adalah kecendrungan dari organisasi atau individu untuk tidak mengoptimalkan sumber daya yang tersedia dan kecendrungan untuk tidak melakukan efisiensi. Organizational slack secara mendasar mengacu pada kapasitas yang tidak digunakan, sedangkan budgetary slack adalah proses penganggaran yang ditemukan adanya distorsi secara sengaja dengan menurunkan pendapatan yang dianggarkan dan meningkatkan biaya yang dianggarkan.
A.    Budgetary slack
Anggaran merupakan bagian paling penting dalam perusahaan atau organisasi sektor publik. umum sudah mengetahui bahwa anggaran adalah alat pengendalian. Penting dan urgenya fungsi anggaran sebagai perencanaan dan pengendalian perusahaan menjadikan penganggaran sebagai area penting bagi keberhasilan perusahaan. Anggaran diharapkan menjadi rerangka kerja untuk menentukan prestasi dan kinerja karyawan. Anggaran seperti tujuan itu sendiri, dengan kata lain anggaran sebagai alat mengimplementasikan tujuan tersebut. Lebih luas lagi, anggaran dapat mencerminkan kesuksesan karyawan pada tugas yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu, anggaran dapat menjadi suatu pertimbangan, melalui perbandingan antara prestasi yang sebenarnya atau yang telah ditetapkan dalam anggaran. Anggaran sektor publik, berupa APBD misalnya merupakan representasi dari tujuan pemerintah sendiri dan dibahas berasama DPRD. APBD merupakan roh dari manajmen pemerintahan.
            Sering kali perusahaan menggunakan anggaran sebagai satu- satunya pengukur kinerja manajmen, karena itu yang tersedia. Penekanan anggaran seperti ini dapat memungkinkan timbulnya slack. Penilaian kinerja berdasarkan tercapai atau tidaknya target anggaran akan mendorong bawahan untuk menciptakan slack dengan tujuan meningkatkan prospek kompensasi ke depanya.
            Slack anggaran adalah perbedaan antara anggaran yang dinyatakan dan estimasi anggaran terbaik yang secara jujur dapat diprediksinya. Manajer menciptakan slack dengan mengestimasikan pendapatan lebih rendah dan biaya lebih tinggi. Yang tahy slack atau tidak adalah si pembuat anggaran.
            Anggaran secara luas telah menjadi fokus bagi aktivitas perencanaan dalam jangka pendek ( biasanya dalam satu tahun ) dan menjadi dasar bagi sistem pengendalian manajmen. Anggaran keuangan adalah ringkasan dari proyeksi laporan keuangan perusahaan untuk satu tahun ke depan  dalam bahasa kuantitatif yang terukur. Anggaran mencerminkan tujuan detail perusahaan dan perencanaan untuk mencapainya dengan sumber daya yang terbatas. Sebagi basis dalam sistem pengendalian organisasi, anggaran mencerminkan prinsip manajmen by exception. Prinsip ini mengakui kognitif inheren dan keterbatasan rasional dari manajer dalam tugas dan aktivitas mereka. Karena keterbatasan itulah dibuat anggaran.
            Aspek keperilakuan dari penganggaran mengacu pada perilaku manusia yang muncul dalam proses penyusunan anggaran pada perilaku manusia yang didorong ketika manusia mencoba untk hidup dengan anggaran. Hal tersebut mengacu pada kegelisahan ( job insecurity ) karena mengetahui bahwa batas pengeluaran tidak akan dinaikan tahun ini atau dengan kata lain anggaran mengandung unsur ketetatan, ketakan untuk mengatakan kepada staf anda  bahwa tidak akan ada kenaikan bonus tahun ini, dan rasa curiga yang bisa berkembang ketika kepala depertemen lain menerima kenaikan anggaran terbesar secara spektakuler pada tahun- thaun belakangan ini. Hal lain yang terjadi adalah tiba- tiba ada pengeluaran yang krusial dan urgen, tetapi tidak ada dalam mata anggaran, maka itu akan membuat kesulitan bagi pelaksanaan anggaran. Haruskah mereka menundanya? Atau anggaran sama denga tahun yang lalu.
            Anggaran dan proses penganggaran memilki dampak langsung dan menentukan yang mempengaruhi perilaku manusia. Anggaran menjelaskan kepada orang- orang mengenai apa yang diharapkan dari mereka kapan, dimana, dan berapahal tersebut harus sudah dilakukan dan dioperasionalkan. Anggaran menetapkan limit terhadap pada apa yang dapat dibeli dan berapa banyak yang dapat dibelanjakan. Anggaran membatasi tindakan diskresi manajmen sekaligus mengukur kinerja mereka. Anggaran merupakan alasan mengapa kinerja manajer dipantau secara reguler ( rutin ) dan ukuran standar terhadap mana hasil kinerja dibandingkan. Itulah yang menyebabkan mengapa anggaran bebasis kinerja sangat populer.
            Karyawan merasakan tekanan dari anggaran yang sangat ketat. Kegelisahan dari laporan kinerja yang buruk, dan kegembiraan atau puas karena memenuhi anggaran. Kinerja dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efisiensi pelaksanaan anggaran, meskipun pada organisasi sektor publik misalnya pemerintah efisiensi mempunyai makna yang berbeda dibandingkan sektor korporat. Pada organisasi pemerintahan penyerapan anggaran yang tinggi justru baik, asalkan sasaranya benar ( efektivitas ). Penyerapan anggaran akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
            Konsep informasi asimetris yaitu atasan/ pemegang kekuasaan anggaran mungkin mempunyai pengetahuan dan wawasan yang lebih dari pada bawahan atau pelaksana anggaran mengenai unit tanggung jawab bawahan atau pelaksana anggaran, ataupun sebaliknya. Bila kemungkinan yang pertama tejadi, akan muncul tuntutan atau motivasi yang lebih besar dari atasan atau pemegang kekuasaan anggaran kepada pelaksana anggaran mengenai pencapaian target anggaran terpasang. Yang menurut pelaksana anggaran terlalu tinggi. Namun bila kemungkinan yang kedua terjadi, pelaksana anggaran akan menyatakan target terpasang yang lebih rendah dari pada yang dimungkinkan untuk dicapai. Keadaan dimana salah satu pihak mempunyai pengetahauan dan informasi lebih dari pada yang lainya terhadap sesuatu hal disebut informasi asimetris.
            Atasan/ pemegang kuasa anggaran menerima informasi yang  belum diketahui sebelumnya dan meningkatkan akurasi pemahaman terhadap bawahan/ pelaksana anggaran sehingga semakin menugurangi informasi asimetris dalam hubungan atasan/ pemegang kuasa anggaran dan bawahan/ pelaksana anggaran, dalam hal ini kepala bagian dengan  kepala sub bagian serta bagian- bagian dibawahnya. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa informasi asimetris dapat dikurangi melalui monitoring dan desain sistem informasi yang lebih baik.
            Era digitalisasi dan teknologi informasi telah menuntut adanya perubahan yang sangat cepat dan menyebabkan adanya pergeseran mind- set yang kompleks disegala bidang. Untuk itu perusahaan harus memilki keunggulan kompetitif agar dapat memenangkan persaingan, dengan meninggalkan keunggulan komparatif misalnya upah buruh yang murah. Karyawan perusahaan merupakan sumber daya penggerak perusahaan, sehingga jika kinerja karyawan perusahaan baik, maka kinerja perusahaan juga akan meningkat. Karyawan adalah aset yang unik dan berharga. karyawan dituntut berpartisipasi supaya anggaran menjadi lebih realistik. Dengan adanya partisipasi karyawan dalam proses penyusunan anggaran, hal ini akan meningkatkan kesadaran karyawan akan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Dengan adanya partisipasi, karyawan tahu benar mengenai apa yang harus dikerjakan berkaitan dengan pencapaian anggaran dengan menggunakan informasi terkini. Dalam proses penyusunan anggaran, partisipasi karyawan akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Ini sudah normatif. Dengan dilibatkanya karyawan dalam proses penyusunan anggaran, hal ini akan menimbulkan komitmen organisasional pada karyawan bahwa anggaran yang ada juga merupakan tujuanya.
            Anggaran dapat dikatakan sebagai wahana untuk mengoperasikan tujuan yang akan dicapai dalam jangka pendek. Target ini secara langsung dapat membantu kegiatan organisasi dan perusahaan; mengidentifikasi masalah, memabantu memotivasi karyawan, dan menjelaskan hubungan aktivitas yang berlangsung dengan kebijaksanaan masa yang akan datang, termasuk didalamnya adalah dalam hal manajmen operasional. Kondisi ini secara tegas juga menyatakan kontribusi penyusunan anggaran adalah perencanaan dan pengendalian manajerial. Hal itu patut disadari oleh pemangku kepentingan perusahaan atau organisasi.
            Pada sebagian besar organisasi, para manajer tingkat menengah kebawah lebih banyak memilki informasi yang akurat dibandingkan dengan atasanya, karena mereka bersentuhan langsung dengan operasional. Sementara pada sisi lain, manajer pada tingkat atas yang lebih dominan dan powerfull dalam posisinya akan merasa lebih mampu menyusun anggaran, karena adanya perbedaan status ini memunculkan kendala partisipasi. Jadi, partisipasi dalam penganggaran bukanlah pekerjaan yang mudah. Partisipasi juga merupakan masalah keperilakuan.
            Untuk menghilangkan atau mengeliminasi terjadi perbedaan persepsi pada kedua tingkatan manajer ini, serta memaksimalkan partisipasi agar menjadi lebih efektif, maka manajer bawah ditingkat organisasi harus diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dalam proses penyusunan anggaran dengan mengungkapkan informasi yang dimiliki terkait pekerjaan sebagai kontribusi dalam penetapan jumlah anggaran. Manajer bawah harus aktif dan proaktif dalam memberikan informasi kepada pihak atasan. Kita harus menghindari terjadinya pseudeoparticipation atau partisipasi pura- pura.

B.     Konsekuensi disfungsional
Menurut Gudono ( dalam suartana,2010 ) penyusunan anggaran dapat menyebabkan dampak psikologis langsung pada karyawan. Tidak sedikit manajer departemen tertentu mengalami keresahan jika prestasinya ( dilihat dari realisasi ) tidaklah bagus setelah dibandingkan dengan anggaran yang harus dicapai. Sebaliknya, banyak pula manajer yang justru mempunyai motivasi semakin besar setelah anggaran.
            Tidak sedikit pimpinan departemen yang sengaja menyusun target atau rencana yang mudah dicapai. Misalnya jika departemen produksi merasa mampu mencapai target kos per-unit Rp. 1000, ia mngkin akan menyodorkan anggaran kos per- unit Rp. 1200. Dengan demikian, setelah realisasinya dibandingkan seolah- olah ia mampu melakukan efisiensi itu semu belaka. Target yang terlalu rendah ini akan menimbulkan yang disebut budgetary slack atau senjangan anggaran. Secara teoritis bisa dikatakan; bila partisipasi anggaran tidak dilaksanankan dengan baikdapat menorong pelaksana anggaran melakukan senjangan anggaran. Hal ini mempunyai implikasi negatif seperti kesalahan alokasi sumber daya dan bias evaluasi kinerja bawahan terhadap unit pertanggungjawaban mereka. Senjangan anggaran akan menjadi lebih besar dalam kondisi informasi asimetris karena informasi asimetris mendorong bawahan/ pelaksana anggaran membuat senjangan anggaran. Secara teoritis, informasi asimetris dapat dikurangi dengan memperkuat monitoring dan meningkatkan kualitas pengungkapan.
            Dengan demikian, ada konsekuensi disfungsional dari proses penganggaran, yaitu:
1.      Rasa tidak percaya
Dalam kenyataanya anggaran dapat disesuaikan, tetapi akan menjadi sumber tekanan yang dapat menimbukan rasa tidak percaya. Orang mersa pesimis, apakah mampu menjawab target yang dibebankan kepadanya.
2.      Resistensi
Anggaran bisa jadi menimbulkan penolakan, karena orang mempunyai status quo masing- masing, terbiasa dengan cara- cara lama, dan dirugikan secara pribadi. Resistensi muncul karena adanya prerequisite yang tidak proposional. Yang dimaksudkan adalah kenikmatan – kenikmatan yang diperoleh karena memangku jabatan. Jika anggaranya tiba- tiba dipotong, tentu saja akan menimbulkan keterkejutan.
3.      Konflik internal
Konflik internal akan muncul mana kala anggaran sebagai pusat koordinasi tidak berjalan. Masing- masing menjalankan ego diri sendiri. Seharusnya anggaran berfungsi sebagai alat koordinasi sehinggan dapat meminimalisasi konflik internal. Namun, kadang- kadang sulit dilakukan karena desentralisasi tanpa disertai dengan pemahaman mengenai kongruensi tujuan yang jelas. Meskipun mempunyai banyak segmen, organisasi atau perusahaan tetap dianggap sebagai entitas yang tunggal.

1 komentar:

  1. ni mata kuliah yg paling aku suka.....tapi butuh kesempurnaan untukitu butuh saran dari temeen semua

    BalasHapus